Oleh: Frederik Kalalembang
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Dapil Sulsel 3
Weekendsulsel, Toraja — Di timur Sulawesi Selatan, ada dua wilayah yang sejak lama tumbuh berdampingan dalam satu tarikan napas sejarah, yakni Luwu Raya dan Tana Toraja. Hubungan keduanya bukan sekadar soal batas administratif, melainkan tentang jejak panjang kebudayaan, pemerintahan, dan interaksi sosial yang saling mengisi.
Sejak masa kerajaan-kerajaan lama, hubungan antara Toraja, Toraja Utara dan Tanah Luwu telah terjalin erat. Arus perdagangan, hubungan adat, hingga struktur sosial membentuk keterhubungan yang tidak pernah benar-benar terputus. Banyak tokoh Toraja mengabdi dan menduduki jabatan pemerintahan di wilayah Luwu. Sebaliknya, figur-figur dari Luwu juga tumbuh dan berperan di Toraja. Perpindahan manusia, gagasan, dan nilai terjadi secara alami tanpa sekat emosional.
Dalam keluarga-keluarga besar di wilayah ini, hubungan darah antara Toraja dan Luwu bukan hal asing. Bahasa yang saling dipahami, adat yang memiliki persinggungan, serta kehidupan yang serumpun menjadikan keduanya seperti saudara kandung yang tumbuh di dua lanskap berbeda: satu di pesisir dan lembah, satu di punggung pegunungan.
Inilah fondasi sosial dan historis yang membuat wacana penyatuan atau penguatan kawasan Luwu Raya–Toraja terasa bukan sebagai sesuatu yang dipaksakan, melainkan sebagai kelanjutan dari sejarah panjang kebersamaan. Serumpun Budaya, Saling Menguatkan dalam Pemerintahan Interaksi kedua wilayah tidak berhenti pada budaya semata. Dalam perjalanan pemerintahan modern, banyak putra-putri Toraja berkiprah di Luwu Raya, menjadi bagian dari roda birokrasi dan pembangunan. Begitu pula tokoh-tokoh Luwu memberi warna dalam kehidupan sosial dan politik di Toraja.
Hubungan ini memperlihatkan bahwa integrasi sosial telah lebih dulu terbangun dibanding batas administratif. Mobilitas sumber daya manusia telah berlangsung lama dan membentuk rasa memiliki yang sama terhadap masa depan kawasan ini.
Konektivitas yang Kian Terbuka
Hari ini konektivitas menjadi semakin nyata. Jalur darat semakin baik, penerbangan bertambah, dan transportasi laut mempercepat arus barang serta manusia. Jarak yang dahulu terasa panjang kini semakin ringkas. Wisatawan dapat menikmati pesisir dan danau di Luwu Raya, lalu melanjutkan perjalanan menuju pegunungan Toraja yang sejuk dan sarat budaya dalam satu perjalanan terpadu. Bagi pekerja sektor industri dan pertambangan, kota jasa, destinasi wisata, dan pusat rekreasi kini berada dalam satu lingkup yang terhubung. Perputaran ekonomi pun mengalir di dalam kawasan sendiri.
Lanskap Lengkap: Miniatur Bali di Timur Indonesia
Jika menengok Bali, kekuatannya terletak pada kesatuan lanskap: laut, sawah, pegunungan, budaya, dan kota jasa dalam satu sistem yang saling menopang. Kabupaten dan kota di sana tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling menguatkan. Luwu Raya dan Toraja memiliki komposisi yang serupa, bahkan dengan wilayah yang lebih luas. Di satu sisi terdapat garis pantai, danau besar, serta potensi bahari. Di sisi lain berdiri pegunungan, lembah hijau, dan kebudayaan Toraja yang telah mendunia. Pertanian menjadi penopang kehidupan, sementara kekayaan alam membuka ruang pengembangan ekonomi yang besar. Tak berlebihan jika muncul optimisme bahwa kawasan ini berpotensi menjadi “Bali Kedua” di Indonesia Timur.
Ekonomi yang Saling Menghidupi
Luwu Raya memiliki kekuatan pada sektor tambang, perikanan, perkebunan, dan industri. Toraja memiliki daya tarik pariwisata budaya dan alam yang khas. Ketika kedua potensi ini terintegrasi, tercipta ekosistem ekonomi yang bukan hanya kokoh, tetapi juga saling menghidupi.
Kejayaan Toraja pada era 1990-an menjadi bukti bahwa kawasan ini pernah menjadi magnet wisata dunia. Aktivitas ekonomi bergerak pesat, hotel berkembang, dan kunjungan wisatawan meningkat tajam. Namun, potensi besar kala itu belum terkoordinasi secara berkelanjutan.
Kini, bayangkan jika kekuatan tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan diperkuat bersama Luwu Raya yang memiliki pantai, danau, kawasan bahari, serta sumber daya ekonomi lainnya. Peluang kebangkitan tentu jauh lebih besar.
Ketika pintu pariwisata terbuka dan terintegrasi, kebutuhan akan pangan, hasil pertanian, peternakan, kerajinan, kuliner, transportasi, hingga perhotelan akan meningkat. Dampaknya langsung dirasakan petani, nelayan, perajin, pelaku UMKM, dan masyarakat luas.
Di sinilah pariwisata menjadi penggerak utama: Toraja melalui budaya dan identitasnya yang unik, Luwu Raya melalui kekuatan pesisir dan ekonominya.
Transit yang Berubah Menjadi Destinasi
Dalam konsep kawasan terpadu, wisatawan tak lagi memilih antara pantai atau gunung. Mereka dapat menikmati keduanya dalam satu rangkaian perjalanan. Transit menjadi pengalaman. Perjalanan menjadi cerita.
Toraja dan Luwu Raya ibarat dua mata yang memandang masa depan dengan arah yang sama: satu menghadirkan energi laut dan potensi ekonomi, satu menghadirkan kedalaman budaya dan keelokan pegunungan.
Jika suatu hari keduanya benar-benar berdiri dalam satu kesatuan visi pembangunan, yang lahir bukan hanya entitas administratif, melainkan sebuah kawasan dengan sejarah yang telah menyatu, budaya yang telah berkelindan, serta ekonomi yang saling menghidupi. Sebuah mini lanskap Indonesia Timur — lengkap, kuat, dan siap melangkah bersama. (*)


